Mengejar bintang yang tak tentu arah, meratap hari yang tak kunjung datang. Itulah salah satu pepatah yang tepat bagi mereka yang sedang mengejar impiannya.
Dalam sesaknya kota Jakarta, dalam raungan kota Jakarta. Ada seorang remaja yang sedang mencari, mengejar, dan berusaha membangun hidupnya.
Andika adalah anak ketiga dari pasangan Jamal dan Erlin. Dahulu mereka adalah keluarga yang bahagia, namun kebahagiaan tersebut mulai sirna entah kemana. Kepergian sang ayah yang menikahi ibu baru membuat sebuah masalah baru dalam keluarga bahagia tersebut. Hilanglah salah satu figur anak dalam keluarga tersebut.
Tujuh tahun kemudian, saat usianya mulai beranjak 15 tahun. Pergilah sang ibu meninggalkan Andika guna mencari nafkah ke negeri timur tengah. dan Kini dia hidup bersama kedua orang kakaknya yang bernama Soni Dan Indah. Empat orang sahabat yang senantiasa menghibur hati kecilnya, membuahkan senyuman yang tak bisa menutupi luka hatinya. Empat orang sahabat itu adalah Faris, Hanafi, Ardiansah, dan Eriko. Mereka silih berganti mengisi kekosongan hati kecil yang haus akan kasih sayang.
Satu tahun kemudian, kakak yang ditumpanginya hidup pergi meninggalkannya untuk membangun sebuah hidup baru dengan orang lain. Terjadilah sebuah penekanan. dan sejak saat itu dia tinggal dengan salah satu sahabatnya yang bernama Faris. Hidup dalam ketertekanan, hidup dalam ketidak pastian, dan hidup dalam ketergantungan. Hari demi hari berlalu. Mencari kerja dalam raungan kota Jakarta, hanya untuk sesuap nasi. Semangat demi semangat dan dukungan demi dukungan kami berikan padanya.
Mei 2010, pergilah Andika meninggalkan kami menuju provinsi Lampung. Pergi ke kampung halaman menjadi seorang petani karena tak kuat menahan jeritan kota Jakarta.
Dahulu kami adalah lima sahabat Andika, Faris, Hanafi, Ardiansah, dan Eriko yang selalu bersama. Tapi kini semua itu hanya tinggal kenangan. Masa-masa yang dulu kami miliki kini hanya tinggal bayangan semata, suka dan duka yang dulu kami alami bersama kini menjadi sebuah kenangan yang tak ternilai harganya, dan semua itu menjadi kenangan dihati kecil kami.
Dan apakah suatu saat nanti kenangan yang indah itu akan terulang kembali?
Biarlah waktu yang berbicara.